Ketika kemarau berkepanjangan membuat warga di sekitar tempat kerjanya kesulitan mendapatkan air bersih, Salman Alfarisi tergerak untuk membantu. Ia mengusulkan sebuah inisiatif yang menyatukan kolega, mitra kerja, dan masyarakat setempat untuk membantu warga yang membutuhkan.
Sebagai supervisor di sebuah pabrik manufaktur otomotif, Salman mengawasi operasional harian dan mengoordinasikan hampir 30 anggota di tim kebersihan dan lanskap. Ia meyakini tanggung jawabnya tidak hanya terbatas pada tempat kerja, tetapi juga mencakup kepedulian terhadap masyarakat sekitar.
Mengubah empati menjadi tindakan nyata
Karena beberapa sumber air setempat mengering, Salman sering melihat warga harus menempuh jarak jauh untuk mendapatkan air bersih. Ia memahami kesulitan yang tersebut karena dirinya sendiri pun mengalami situasi serupa di rumah.
Salman kemudian mengusulkan ide untuk menyumbangkan air bersih kepada masyarakat setempat, lalu mendiskusikan idenya dengan atasan. Berawal dari percakapan sederhana, ide tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah aksi bersama.
Setelah mendapatkan persetujuan dari pelanggan, Salman berkoordinasi dengan mitra penyedia air untuk menyiapkan donasi. Ia juga bekerja sama dengan warga dan Karang Taruna setempat untuk mendata keluarga yang membutuhkan serta memastikan bantuan tersalurkan kepada penerima yang tepat.