Tanya Jawab dengan Javved Qureshi
Perbincangan mengenai keselamatan kerja sering kali hanya sebatas masalah kepatuhan. Namun, di industri manajemen fasilitas (FM), keselamatan kerja merupakan bagian penting dari pengendalian operasional.
Sebagian besar insiden tidak terjadi karena kegagalan besar yang tiba-tiba. Ia bermula dari kebiasaan kecil dalam pekerjaan rutin, saat ada sesuatu yang terasa tidak beres namun tidak ada yang bersuara.
Seorang teknisi menemui kondisi panas yang tidak umum pada panel listrik dan memilih untuk menunda pengecekan. Seorang petugas kebersihan melihat genangan air dekat aliran listrik dan mengira sudah ada orang lain yang melaporkannya. Atau seorang supervisor menunda laporan ke atasan untuk menghindari gangguan operasional.
Situasi di atas terlihat sepele, tapi berdampak langsung pada kelancaran operasional, kesiapan audit, kinerja aset, dan kepercayaan pelanggan.
Dalam manajemen fasilitas, sikap diam seseorang bisa menyebabkan kerugian besar.
Dalam rangka World Day for Safety and Health at Work 2026, kami berbincang dengan Javved Qureshi, QHSE Director, APAC & ME and Chief Human Resource Officer, India, mengenai pentingnya keamanan psikologis, pengambilan keputusan tim garda depan, dan mengapa pelaporan yang lebih baik dapat meningkatkan kinerja operasional.
1. Mengapa pemimpin bisnis harus peduli dengan kondisi keamanan psikologis?
Pekerjaan rutin sering menyimpan risiko yang tidak terlihat.
Sebagian besar pekerjaan di industri manajemen fasilitas dilakukan di lingkungan yang sudah familiar. Aktivitas seperti pembersihan area, pengecekan peralatan, inspeksi, hingga perawatan mesin dikalkukan setiap hari.
Kondisi yang familiar ini memang membangun kepercayaan diri, tetapi juga bisa menurunkan kewaspadaan.
“Di industri manajemen fasilitas (FM), sebagian besar pekerjaan dilakukan di lingkungan yang sudah familiar dengan pola kerja rutin. Kondisi ini dapat menciptakan rasa aman yang semu. Ketika risiko tidak terlihat jelas, justru di situlah risiko sering kali berada pada titik tertinggi.”
Javved Qureshi
QHSE Director, APAC & ME and Chief Human Resource Officer, India
Keamanan psikologis (psychological safety) membantu mengurangi risiko tersebut. Saat kolega merasa aman untuk menyampaikan kekhawatirans ejak awal, masalah dapat ditangani sebelum berkembang menjadi insiden yang lebih besar. Potensi insiden (near miss) dapat dicegah sebelum menimbulkan downtime. Kerusakan juga dapat diperbaiki sebelum menjadi temuan audit.
Ini bukan soal kenyamanan, melainkan tentang kontrol yang lebih baik.
2. Bagaimana keraguan untuk melapor dapat memengaruhi kinerja bisnis?
Laporan yang tertunda dapat menimbulkan konsekuensi operasional.
Banyak insiden yang sebenarnya dapat dicegah, justru dimulai saat seseorang memutuskan untuk tidak melaporkan masalah. Laporan yang tertunda atau terlambat disampaikan dapat menyebabkan kerusakan peralatan. Masalah kecil dalam pemeliharaan ini juga bisa membesar, membuat operasional berhenti tanpa direncanakan.
Dampaknya tidak sebatas aspek keselamatan, tapi juga berpengaruh pada hal-hal berikut:
- Keberlangsungan produksi
- Operasional pelanggan
- Risiko kontraktor
- Kesiapan audit
- Biaya pemeliharaan
- Keandalan layanan
Pelaporan sejak dini bisa membantu melindungi jadwal operasional, mengurangi pekerjaan reaktif, dan memperkuat kontrol di lokasi kerja. Terutama pada pekerjaan berisiko tinggi yang menuntut kecepatan respons.
3. Di mana keraguan paling sering terjadi?
Keraguan sering terjadi saat menjalankan pekerjaan rutin.
Contohnya, pada pekerjaan pembersihan, pemeliharaan, pemeriksaan alat, dan inspeksi yang dilakukan secara rutin dan berulang. Rutinitas ini bisa membuat seseorang bekerja secara ‘otomatis’ tanpa mempertimbangkan risiko secara menyeluruh.
“Keraguan sering muncul dalam pekerjaan rutin seperti cleaning, maintenance, atau pemeriksaan peralatan. Rutinitas dapat membuat seseorang bekerja dengan autopilot.”
Di lingkungan yang berhadapan langsung dengan pelanggan, tekanan pekerjaan bisa lebih besar. Tim terkadang enggan menghentikan pekerjaan karena khawatir mengganggu layanan atau operasional pelanggan.
Di sinilah peran kepemimpinan menjadi sangat penting. Setiap koleha harus memahami bahwa menghentikan pekerjaan demi keselamtan bukanlah bentuk disrupsi, melainkan bagian dari menjalankan pekerjaan dengan benar.
Di manajemen fasilitas, disiplin operasional juga berarti mengetahui kapan harus berhenti sejenak.
4. Bagaiamana STOP dapat membantu operasional sehari-hari?
Kerangka STOP memberikan panduan praktis bagi tim untuk mengambil keputusan sebelum memulai pekerjaan.
Stop → Think → Observe → Proceed
Berhenti → Berpikir → Amati → Proses
Metode ini menciptakan waktu jeda antara tindakan rutin dan potensi risiko.
Sebelum melanjutkan pekerjaan, tim perlu menilai kondisi di sekitar, memastikan situasi aman, dan mengambil keputusan secara sadar bukan hanya berdasarkan kebiasaan.
Prinsipnya sederhana:
Saya tidak akan melanjutkan pekerjaan jika kondisi tidak aman.
Pendekatan ini tidak hanya melindungi pekerja, tapi juga menjaga kelancaran operasional, kepatuhan, dan operasional pelanggan.
STOP membantu mengurangi insiden yang sebenarnya dapat dicegah, mendukung disiplin permit-to-work (izin kerja), dan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan baik bagi tim teknis maupun frontline.
Budaya keselamatan yang kuat sering kali dibangun dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
5. Perbedaan apa yang perlu dilakukan oleh para pemimpin?
Pemimpin membangun budaya pelaporan setiap hari.
Saat seseorang menyampaikan kekhawatiran mereka atau menghentikan pekerjaan karena alasan keselamatan, respons yang diberikan akan menentukan apakah mereka akan melakukannya lagi di masa depan.
Jika laporan diabaikan, ditunda, atau dianggap sebagai gangguan, maka budaya diam akan dinormalisasi. Hal ini pun tanpa sadar bisa meningkatkan risiko.
Pemimpin harus:
- Merespons laporan sesegera mungkin
- Meninjau masalah secara menyeluruh
- Melakukan tindakan perbaikan
- Membagikan pembelajaran kepada tim
- Menjadikan eskalasi sebagai hal yang wajar
Supervisor dapat membudayakan keselamatan melalui Toolbox Talks, evaluasi permit-to-work, serta dukungan nyata di lapangan. Pemimpin senior dapat memperkuatnya dengan memastikan standar keselamatan yang jelas, konsisten, dan tidak dapat ditawar.
“Keselamatan dimulai dari setiap individu. Tidak ada pekerjaan yang terlalu mendesak atau terlalu penting hingga harus mengorbankan keselamatan.”
Pelaporan yang lebih baik akan meningkatkan kepatuhan.
Kepatuhan yang lebih baik akan melindungi operasional.
Dan operasional yang kuat akan membangun kepercayaan pelanggan.
Inilah tujuan utama keselamatan kerja.
Pesan untuk Tim Garda Depan Kami
Operasional yang aman dimulai dari orang-orang yang berada paling dekat dengan pekerjaan.
Petugas kebersihan, teknisi, engineer, satpam, tim katering, dan seluruh tim garda depan sering kali menjadi pihak pertama yang menyadari perubahan kondisi di lapangan.
Keputusan untuk berhenti sejenak, melaporkan, dan mengambil tindakan yang tepat akan membantu melindungi manusia, operasional, serta kepercayaan pelanggan kami setiap harinya.
Pada World Day for Safety and Health at Work (Hari K3 Sedunia) ini, kami mengapresiasi disiplin, kepedulian, dan profesionalisme seluruh kolega garda depan yang terus menjaga keselamatan di setiap lokasi dan setiap waktu kerja.
Keselamatan selalu dimulai dari individu yang bekerja di garis terdepan.